PENGARUH BUDAYA “NGANGKRING” TERHADAP PENGEMBANGAN DIRI REMAJA DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONOROGO

Okviana Armyati, Eky (2016) PENGARUH BUDAYA “NGANGKRING” TERHADAP PENGEMBANGAN DIRI REMAJA DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONOROGO. Jurnal Florence 2016. ISSN 1978-8916

[img]
Preview
Text
jurnal.pdf

Download (338kB) | Preview

Abstract

Masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak. Masa remaja berlangsung antara umur 12 sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria.(Drs. Andi Mappiare,1982) Di Ponorogo menurut ziaspo jumlah remaja pada tahun 2011 per desa di kabupaten ponorogo yang paling banyak adalah desa Keniten yaitu sebanyak 72,55%, desa Mangkujayan sebanyak 56,74% sedangkan desa yang lainnya seperti Brotonegaran sekitar 54,84%, desa Surodikraman jumlah remaja sekitar 49,33%. Menurut hasil dario BKKBN kabupaten Ponorog yang diakses oelh Ziaspo jumlah remaja di Ponorog0 adalah 59,21% dari 1026 remaja di Ponorogo. (http/ziaspo.2011/tabel jumlah balita, remaja, dam lansia di kecamatan ponorogo)Angkringan di Ponorogo sangat banyak. Biasanya para remaja yang paling banyak suka ngangkring. Tempat ngopi atau ngangkring ini bukan hanya sekedar ngangkring tetapi bisa mendapatkan lebih dari sekedar ngangkring. Para pengangkring biasanya sambil merokok juga tentunya mengobrol dengan pengunjung yang lain. Para remaja terutama mahasiswa dan anak SMA mengunjungi warung kopi atau ngangkring mereka mengerjakan tugas bahkan juga diskusi atau rapat. Tak jarang mereka membawa laptop, browsing internet, meski harus menggunakan modem karena ada beberapa warung angkringan yang tidak menyediakan wifi di sana. Dari hasil penelitian dilihat dari jenis kelamin dinyatakan bahwa paling banyak adalah laki-laki yaitu 36 orang dibandingkan dengan perempuan.Dari hasil penelitian dilihat dari segi pendidikan diperoleh hasil mereka yang lulusan D3 sebanyak 21 orang jika dibandingkan dengan mahasiswa S1.Hasil dari pengembangan diri diperoleh data bahwa pengembangan diri yang baik adalah 13 orang untuk D3 sedangkan untuk S1 sebanyak 13 orang. Pengembangan diri pada masa remaja usia 20-30 lebih baik dalam penegmbangan dirinya dibandingkan dengan remaja usia dibawah 20 tahun. Kata Kunci: Remaja, angkringan, pengembangan diri

Item Type: Article
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BF Psychology
Divisions: UMPO Journal
Depositing User: Library Umpo
Date Deposited: 16 Aug 2016 01:54
Last Modified: 16 Aug 2016 01:54
URI: http://eprints.umpo.ac.id/id/eprint/2033

Actions (login required)

View Item View Item