ASUHAN KEBIDANAN CONTINUITY OF CARE PADA MASA HAMIL SAMPAI DENGAN KELUARGA BERENCANA DI PMB BIDAN DINA DWI S.Tr.Keb.,Bdn.



SARI, OVITA (2026) ASUHAN KEBIDANAN CONTINUITY OF CARE PADA MASA HAMIL SAMPAI DENGAN KELUARGA BERENCANA DI PMB BIDAN DINA DWI S.Tr.Keb.,Bdn. D3 thesis, Universitas Muhammadiah Ponorogo.

Text (Surat pernyataan unggah karya)
Surat pernyataan unggah karya.pdf

Download (307kB)
Text (Halaman depan)
Halaman depan(1).pdf

Download (629kB)
Text (BAB 1)
BAB I.pdf

Download (355kB)
Text (BAB 2)
BAB II.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (886kB)
Text (BAB 3)
BAB III.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (564kB)
Text (BAB 4)
BAB IV.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (295kB)
Text (BAB 5)
BAB V.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (226kB)
Text (Daftar Pustaka)
DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (260kB)
Text (Lampiran)
LAMPIRAN.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)
Text (LTA FULL Text)
LTA FULL TEXT.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (3MB)

Abstract

Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu program pembangunan kesehatan nasional yang berperan penting dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu maupun bayi melalui pengaturan jarak kehamilan yang ideal. Program ini bukan hanya sebatas upaya pengendalian jumlah penduduk, tetapi juga merupakan strategi kesehatan masyarakat untuk menjamin kesejahteraan ibu, bayi, dan keluarga. Menurut World Health Organization (WHO), jarak kehamilan yang terlalu dekat (kurang dari dua tahun) dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan seperti perdarahan, preeklamsia, dan persalinan prematur. Sebaliknya, menjaga jarak minimal dua tahun antara kehamilan terbukti dapat menurunkan risiko kematian ibu hingga 30% dan kematian bayi hingga 25%. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan kontrasepsi merupakan bentuk investasi kesehatan jangka panjang bagi keluarga dan negara, karena dapat mencegah kehamilan berisiko dan memberikan waktu pemulihan yang cukup bagi ibu sebelum menghadapi kehamilan berikutnya (WHO, 2025).
Selain berperan dalam aspek kesehatan, program KB juga berkontribusi terhadap kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat. Menurut (BKKBN, 2022), keluarga yang mampu mengatur kelahiran memiliki peluang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan dasar anak, termasuk pendidikan, nutrisi, dan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembang anak. Keluarga kecil yang berkualitas bukan berarti menolak keturunan, melainkan mengatur kelahiran secara sadar, bertanggung jawab, dan sesuai dengan kemampuan ekonomi serta kondisi kesehatan orang tua. Oleh karena itu, KB menjadi bagian dari kebijakan nasional yang mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya pada tujuan ketiga, yaitu menjamin kehidupan yang sehat dan sejahtera bagi semua usia. Melalui pelaksanaan program KB yang efektif, diharapkan kualitas sumber daya manusia Indonesia dapat meningkat, sehingga masyarakat tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga sejahtera secara sosial dan ekonomi.
Sampai saat ini, implementasi program KB masih menghadapi tantangan, terutama terkait kesadaran dan partisipasi pasangan usia subur (PUS). Data BKKBN (2023) menunjukkan cakupan peserta KB aktif nasional mencapai 74,2%, yang setara dengan 74.200.000 pasangan usia subur dari total 100 juta pasangan usia subur yang menjadi target. Di Provinsi Jawa Timur, cakupan peserta KB aktif tercatat 72,1%, yang berarti 7.210.000 pasangan usia subur dari total 10 juta target, sementara di Kabupaten Ponorogo, angka cakupan peserta KB aktif tercatat 68,5%, atau 342.500 pasangan usia subur dari total 500 ribu pasangan usia subur. Untuk tahun 2024, diperkirakan cakupan peserta KB aktif di Jawa Timur dapat mencapai 73%, yang setara dengan 7.300.000 pasangan usia subur, dan di Ponorogo sekitar 69%, yang berarti 345.000 pasangan usia subur. Sementara itu, pada 2025, prediksi menunjukkan angka tersebut bisa meningkat menjadi 75% di tingkat nasional (setara dengan 75.000.000 pasangan usia subur), 74% di Jawa Timur (setara dengan 7.400.000 pasangan usia subur), dan 71% di Ponorogo (setara dengan 355.000 pasangan usia subur) (BKKBN, 2023).
Meskipun ada peningkatan, kesenjangan pencapaian masih terlihat di beberapa wilayah, dengan faktor-faktor seperti keterbatasan pengetahuan, akses terbatas terhadap layanan KB, serta norma sosial yang menghambat keputusan untuk ber-KB (N. H. Raden & Khozin, 2025). Selain itu, dalam beberapa kasus, keputusan untuk menggunakan alat kontrasepsi masih didominasi oleh pihak suami, yang cenderung mengabaikan kondisi fisik dan psikologis istri (Wijayanti et al., 2025). Faktor lain yang turut berpengaruh adalah masih kuatnya mitos dan persepsi negatif terhadap alat kontrasepsi. Banyak masyarakat meyakini bahwa KB dapat menyebabkan infertilitas permanen, menurunkan gairah seksual, atau mengganggu keseimbangan hormonal (Mulyani, 2019). Tidak jarang pula ditemukan pandangan bahwa KB merupakan tindakan yang bertentangan dengan ajaran agama, karena dianggap sebagai bentuk penolakan terhadap takdir dan rezeki dari Allah SWT (Pamangin & Asriati, 2023). Pandangan ini keliru karena Islam sejatinya mendorong umatnya untuk bertindak dengan penuh tanggung jawab, termasuk dalam merencanakan kehidupan keluarga agar setiap anak lahir dan tumbuh dengan baik dalam kondisi yang siap secara fisik, mental, dan spiritual. Pandangan keagamaan tentang pentingnya menjaga jarak kelahiran termuat secara eksplisit dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 233:

“Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang patut.” (QS. Al-Baqarah: 233)
Ayat ini menggambarkan bahwa Islam menghendaki adanya jeda antara satu kelahiran dan berikutnya agar ibu memiliki waktu cukup untuk menyusui, memulihkan kesehatan, serta memberikan perhatian penuh kepada anaknya. Menyusui selama dua tahun secara implisit menunjukkan bahwa jarak kelahiran ideal minimal dua tahun, yang sejalan dengan prinsip dasar KB. Dengan demikian, penggunaan kontrasepsi bukanlah tindakan yang melawan kodrat, tetapi bentuk pengamalan nilai kasih sayang, tanggung jawab, dan keseimbangan dalam keluarga.
Meningkatkan cakupan KB memerlukan pendekatan yang tidak hanya bersifat teknis medis, tetapi juga menyentuh aspek edukatif, sosial, dan emosional. Pemerintah melalui BKKBN dan Dinas Kesehatan telah melaksanakan berbagai program seperti Safari KB, Gerakan Ayo Ikut KB (GAYA KB), serta peningkatan penyuluhan dan konseling di fasilitas kesehatan dan posyandu. Safari KB memberikan pelayanan kontrasepsi massal secara gratis di daerah dengan capaian rendah, sementara kegiatan edukatif dilakukan secara berkelanjutan untuk membangun pemahaman masyarakat terhadap manfaat KB dalam konteks kesehatan dan kesejahteraan keluarga (Tristanti et al., 2025).
Dalam ranah praktik kebidanan, konsep CoC atau pelayanan berkesinambungan menjadi pendekatan yang sangat relevan untuk mendukung keberhasilan program KB. CoC menekankan pentingnya pendampingan yang berkelanjutan dari tenaga kesehatan, khususnya bidan, mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, hingga pelayanan kontrasepsi pasca persalinan. Pendekatan ini terbukti efektif karena mampu membangun kepercayaan antara bidan dan klien, memperkuat edukasi kesehatan, serta memotivasi ibu untuk menggunakan alat kontrasepsi sesuai kebutuhannya (E. Nurhidayati & Khayati, 2024). Melalui CoC, ibu tidak hanya mendapatkan layanan medis, tetapi juga pendampingan emosional dan psikologis yang membantu dalam pengambilan keputusan reproduksi yang lebih sadar dan bertanggung jawab.
Dengan demikian, penerapan CoC menjadi langkah strategis yang tidak hanya mendukung peningkatan cakupan KB, tetapi juga memperkuat kualitas pelayanan kebidanan secara komprehensif. CoC berperan sebagai jembatan antara pelayanan klinis dan edukasi masyarakat, membantu ibu memahami pentingnya perencanaan kehamilan, serta memastikan setiap keluarga dapat menikmati kehidupan yang sehat, sejahtera, dan harmonis.

Dosen Pembimbing: Fetty Rosyadia, wachdin and Ririn, Ratnasari | 0712069102, 0705098502
Item Type: Thesis (D3)
Uncontrolled Keywords: AKB : Angka Kematian Bayi AKDR : Alat Kontrasepsi Dalam Rahim AKI : Angka Kematian Ibu ANC : Antenatal Care ASI : Air Susu Ibu ASI MP : Air Susu Ibu Makanan Pendamping BB : Berat Badan BBL : Bayi Baru Lahir BBLN :Bayi Baru Lahir Normal BBLR :Bayi Berat Lahir Rendah BKKBN : Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional BPM : Bidan Praktik Mandiri BTA : Basil Tahan Asam CoC : Continuity of Care CTG : Cardiotocography DJJ : Denyut Jantung Janin GPA : Gravida, Para, Abortus HB : Hemoglobin HIV : Human Immunodeficiency Virus HPL : Hari Perkiraan Lahir HPHT : Hari Pertama Haid Terakhir IMD : Inisiasi Menyusui Dini IMT : Indeks Massa Tubuh IMS : Infeksi Menular Seksual IUFD : Intrauterine Fetal Death IUD : Intrauterine Device KB : Keluarga Berencana KBMK : Kematian Bayi dan Ibu Melahirkan KIE : Komunikasi, Informasi, dan Edukasi KMS : Kartu Menuju Sehat KPD : Ketuban Pecah Dini KSPR : Kartu Skor Poedji Rochjati KTD : Kehamilan Tidak Diinginkan LILA : Lingkar Lengan Atas MAL : Metode Amenore Laktasi MTBM : Manajemen Terpadu Bayi Muda MTBS : Manajemen Terpadu Balita Sakit PKK : Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga PONED : Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar POP : Progestin Only Pill PPH : Postpartum Hemorrhage PROM : Premature Rupture of Membranes PUS : Pasangan Usia Subur SC : Sectio Caesarea SDM : Sumber Daya Manusia TB : Tinggi Badan TD : Tekanan Darah TP : Tafsiran Persalinan TT : Tetanus Toxoid USG : Ultrasonografi WHO : World Health Organization
Subjects: R Medicine > RG Midwifery
Divisions: Faculty of Health Sciences > Department of Midwifery
Depositing User: Ovitasari Ovitasari
Date Deposited: 30 Sep 2026 03:15
Last Modified: 30 Sep 2026 03:15
URI: https://eprints.umpo.ac.id/id/eprint/20831

Actions (login required)

View Item
View Item