PENERAPAN RELAKSASI OTOT PROGRESIF PADA LANSIA YANG MENGALAMI GANGGUAN ISTIRAHAT TIDUR DENGAN MASALAH KEPERAWATAN GANGGUAN POLA TIDUR DI UPT PSTW MAGETAN
Lestari Rahayu, Rengganis (2026) PENERAPAN RELAKSASI OTOT PROGRESIF PADA LANSIA YANG MENGALAMI GANGGUAN ISTIRAHAT TIDUR DENGAN MASALAH KEPERAWATAN GANGGUAN POLA TIDUR DI UPT PSTW MAGETAN.
surat unggah karya_260916_002746.pdf
Download (177kB)
HALAMANN DEPAN.pdf
Download (425kB)
BAB I.pdf
Download (385kB)
BAB II.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (598kB)
BAB III.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (447kB)
BAB IV.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (394kB)
BAB V.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (467kB)
BAB VI.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (188kB)
DAFTAR PUSTAKA-1.pdf
Download (190kB)
LAMPIRANN.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (2MB)
KIAN FULL TEXT UNGGAH KARYA.pdf
Restricted to Repository staff only
Download (3MB)
Abstract
ABSTRAK
PENERAPAN RELAKSASI OTOT PROGRESIF PADA LANSIA YANG
MENGALAMI GANGGUAN ISTIRAHAT TIDUR DENGAN MASALAH
KEPERAWATAN GANGGUAN POLA TIDUR
DI UPT PSTW MAGETAN
Di UPT Pelayanan Sosial Tresna Werdha Magetan
Rengganis Lestari Rahayu
Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Ponorogo
E-mail : rengganis278@gmail.com
Lansia merupakan kelompok yang rentan mengalami gangguan istirahat
tidur akibat perubahan fisiologis, psikologis, penyakit penyerta, dan faktor
lingkungan. Gangguan pola tidur ditandai dengan kesulitan memulai tidur, sering
terbangun pada malam hari, sulit tidur kembali, dan tidur tidak memuaskan. Salah
satu intervensi nonfarmakologis yang dapat digunakan adalah relaksasi otot
progresif.
Pengkajian terhadap Ny. H, lansia berusia 71 tahun, mengarah pada
penegakan diagnosis keperawatan Gangguan Pola Tidur (D.0055). Sebagai
tindakan utama, relaksasi otot progresif diaplikasikan selama 15 menit, 1 kali
sehari pada sore hari secara berturut-turut selama 5 hari. Evaluasi kualitas tidur
dilakukan menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI).
Hasil pengkajian menunjukkan Ny. H mengalami kesulitan tidur setelah
terbangun pada malam hari, tidur tidak puas, dan durasi tidur sekitar 5 jam. Skor
awal PSQI sebesar 14 yang menunjukkan kualitas tidur buruk. Setelah intervensi,
skor PSQI menurun bertahap menjadi 12 pada hari kedua, 9 pada hari ketiga, 6
pada hari keempat, dan 4 pada evaluasi akhir. Ny. H juga melaporkan tidur lebih
nyenyak dan dapat kembali tidur setelah terbangun untuk buang air kecil.
Dapat didimpulkan bahwa Penerapan relaksasi otot progresif memberikan
manfaat nyata dalam memperbaiki pola tidur pada lansia sehingga layak
direkomendasikan sebagai bentuk intervensi keperawatan mandiri yang dapat
terus diterapkan oleh petugas panti secara berkelanjutan.
Kata kunci: ABSTRAK
PENERAPAN RELAKSASI OTOT PROGRESIF PADA LANSIA YANG
MENGALAMI GANGGUAN ISTIRAHAT TIDUR DENGAN MASALAH
KEPERAWATAN GANGGUAN POLA TIDUR
DI UPT PSTW MAGETAN
Di UPT Pelayanan Sosial Tresna Werdha Magetan
Rengganis Lestari Rahayu
Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Ponorogo
E-mail : rengganis278@gmail.com
Lansia merupakan kelompok yang rentan mengalami gangguan istirahat
tidur akibat perubahan fisiologis, psikologis, penyakit penyerta, dan faktor
lingkungan. Gangguan pola tidur ditandai dengan kesulitan memulai tidur, sering
terbangun pada malam hari, sulit tidur kembali, dan tidur tidak memuaskan. Salah
satu intervensi nonfarmakologis yang dapat digunakan adalah relaksasi otot
progresif.
Pengkajian terhadap Ny. H, lansia berusia 71 tahun, mengarah pada
penegakan diagnosis keperawatan Gangguan Pola Tidur (D.0055). Sebagai
tindakan utama, relaksasi otot progresif diaplikasikan selama 15 menit, 1 kali
sehari pada sore hari secara berturut-turut selama 5 hari. Evaluasi kualitas tidur
dilakukan menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI).
Hasil pengkajian menunjukkan Ny. H mengalami kesulitan tidur setelah
terbangun pada malam hari, tidur tidak puas, dan durasi tidur sekitar 5 jam. Skor
awal PSQI sebesar 14 yang menunjukkan kualitas tidur buruk. Setelah intervensi,
skor PSQI menurun bertahap menjadi 12 pada hari kedua, 9 pada hari ketiga, 6
pada hari keempat, dan 4 pada evaluasi akhir. Ny. H juga melaporkan tidur lebih
nyenyak dan dapat kembali tidur setelah terbangun untuk buang air kecil.
Dapat didimpulkan bahwa Penerapan relaksasi otot progresif memberikan
manfaat nyata dalam memperbaiki pola tidur pada lansia sehingga layak
direkomendasikan sebagai bentuk intervensi keperawatan mandiri yang dapat
terus diterapkan oleh petugas panti secara berkelanjutan.
Kata kunci: Lansia, gangguan pola tidur, relaksasi otot progresif, kualitas
tidur, PSQI.
| Dosen Pembimbing: | Nurul, Sri Wahyuni, M.Kes | 0707017503 |
|---|---|
| Item Type: | Article |
| Uncontrolled Keywords: | ABSTRAK PENERAPAN RELAKSASI OTOT PROGRESIF PADA LANSIA YANG MENGALAMI GANGGUAN ISTIRAHAT TIDUR DENGAN MASALAH KEPERAWATAN GANGGUAN POLA TIDUR DI UPT PSTW MAGETAN Di UPT Pelayanan Sosial Tresna Werdha Magetan Rengganis Lestari Rahayu Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Ponorogo E-mail : rengganis278@gmail.com Lansia merupakan kelompok yang rentan mengalami gangguan istirahat tidur akibat perubahan fisiologis, psikologis, penyakit penyerta, dan faktor lingkungan. Gangguan pola tidur ditandai dengan kesulitan memulai tidur, sering terbangun pada malam hari, sulit tidur kembali, dan tidur tidak memuaskan. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat digunakan adalah relaksasi otot progresif. Pengkajian terhadap Ny. H, lansia berusia 71 tahun, mengarah pada penegakan diagnosis keperawatan Gangguan Pola Tidur (D.0055). Sebagai tindakan utama, relaksasi otot progresif diaplikasikan selama 15 menit, 1 kali sehari pada sore hari secara berturut-turut selama 5 hari. Evaluasi kualitas tidur dilakukan menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Hasil pengkajian menunjukkan Ny. H mengalami kesulitan tidur setelah terbangun pada malam hari, tidur tidak puas, dan durasi tidur sekitar 5 jam. Skor awal PSQI sebesar 14 yang menunjukkan kualitas tidur buruk. Setelah intervensi, skor PSQI menurun bertahap menjadi 12 pada hari kedua, 9 pada hari ketiga, 6 pada hari keempat, dan 4 pada evaluasi akhir. Ny. H juga melaporkan tidur lebih nyenyak dan dapat kembali tidur setelah terbangun untuk buang air kecil. Dapat didimpulkan bahwa Penerapan relaksasi otot progresif memberikan manfaat nyata dalam memperbaiki pola tidur pada lansia sehingga layak direkomendasikan sebagai bentuk intervensi keperawatan mandiri yang dapat terus diterapkan oleh petugas panti secara berkelanjutan. Kata kunci: Lansia, gangguan pola tidur, relaksasi otot progresif, kualitas tidur, PSQI. |
| Subjects: | L Education > L Education (General) |
| Divisions: | Faculty of Health Sciences |
| Depositing User: | Rengganis Lestari Rahayu |
| Date Deposited: | 17 Sep 2026 02:02 |
| Last Modified: | 17 Sep 2026 02:02 |
| URI: | https://eprints.umpo.ac.id/id/eprint/20734 |
